Sunday, May 20, 2007

Ketika Chairil Membacakan "Aku"

Oleh Hasan Aspahani

     Sajak "Aku" terbit dalam buku "Deru Campur Debu". "Semangat" terbit dalam buku "Kerikil Tajam dan Yang Terampas dan Yang Putus". Keduanya adalah sajak yang sama.

***

     Tahun 1943. Pemerintah dan Balatentara Dai Nippon masih berkuasa di Indonesia. Pada tahun itu, 1 April tepatnya dibentuk Keimin Bunka Sidosho atau Pusat Kebudayaan. Bagi Jepang ini lembaga yang penting untuk mendukung kekuasaannya. Karena itu, maka pada 18 April lembaga itu diresmikan oleh kepala Pemerintah Balatentara Dai Nippon.
     Seniman Indonesia yang berperan aktif di lembaga ini adalah penyair Sanusi Pane. Lembaga punya lima bagian: 1. Kesusasteraan, 2. Kesenian, lukisan, dan ukiran, 3. Musik atau seni suara, 4. Sandiwara an tari, 5. Film.
     Bagian Kesusasteraan dipimpin oleh orang Jepang Rintaro Takeda, sebagaimana bagian lain pun dipimpin oleh orang Jepang. Armjn Pane, adik Sanusi Pane, pengarang novel "Belenggu" menjadi wakil kepala bagian itu. Di bagian ini bergiat pula pengarang novel "Andang Teruna" Sutomo Djauhar Arifin, Usmar Ismail, Inu Kertapati, dan Amal Hamzah.
     Secara teratur Bagian Kesusasteraan ini menggelar perbincangan dan diskusi. Rosihan Anwar adalah wartawan cum sastawan yang tidak menjadi pengurus Pusat Kebudayaan tapi sering hadir dalam diskusi itu.
     "Kami membentuk Sasterawan Angkatan Baru," tulis Rosihan dalam buku "H Rosihan Anwar, Wartawan dengan Aneka Citra", Penerbit Kompas, 1992. Kelompok ini kerap menggelar malam deklamasai sajak-sajak. Salah satu yang sering tampil adalah H.B Jassin. "Jassin adalah deklamator sajak yang baik," kata Rosihan.
     Pada suatu ketika dideklamasikan sajak penyair angkatan Pujangga Baru: Takdir Alisjahbana, Amir Hamzah, dan Sanusi Pane.  Sehabis pembacaan sajak-sajak itu, ada seseorang berdiri dan dengan tegas mengatakan sajak-sajak itu sudah usang. Ia lalu mengemukakan sajak yang mengandung daya hidup dan padangan baru.
    "Saudara-saudara mau contoh?" tanya tokoh itu. Maka ia pun membacakan sajaknya. Sajak itu adalah sajak yang hingga kini mungkin tetaplah menjadi sajak yang paling banyak diketahui dan dibaca di Indonesia. Sajak itu berjudul ketika itu berjudul "Semangat". Dan kita kini mengenalnya sebagai "Aku".
    Dan penyair itu adalah Chairil Anwar.

***

     Sajak "Aku" terbit dalam buku "Deru Campur Debu". "Semangat" terbit dalam buku "Kerikil Tajam dan Yang Terampas dan Yang Putus". Keduanya adalah sajak yang sama.


***

     Ada cerita lain ihwal sajak itu. Ini kita petikkan dari buku skenario "Aku" Sjuman Djaya, Pustaka Utama Grafiti, 1987. Bila difilmkan ini adalah film tentang sang penyair itu: Chairil Anwar.

     Adegan ke-42:

     "Kita sedang ditugaskan mencari.
     Bagaimana sesungguhnya sastra di jaman perang seperti ini?"
     "Semangat! Dari tadi saya bilang semangat, 'kan?"
     "Baik, lantas bagaimana itu misalnya?"

     Dialog ini terjadi di sebuah ruang pertemuan Keimin Bunka Shidosho. Percakapan tadi melibatkan Armjn (Pane) dan Asmara. Di antara mereka ada perempuan muda. Namanya? Sri atau Nur, atau bisa juga nama lain.
     Sri lantas tampil ke depan ruang, setelah Bung Asmara mengisyaratinya. Sri segera membacakan sebuah sajak kepahlawanan yang sangat romantis dengan suaranya dan gayanya yang lembut. Ketika sajak selesai dibacakan, sebuah tawa yang sangat khas terdengar dari arah pintu masuk.
     Semua yang hadir, tanpa kecuali, menoleh ke sana. Yang berdiri di sana ternyata Qodrat, tapi di sebelahnya adalah lelaki bermata merah itu. Qodrat ini yang lantas berkata:

     "Kawan-kawan, saya perkenalkan: Chairil Anwar!"

    Maka tanpa kecuali lagi, semua menjadi terperangah memandang kepadanya. Armjn yang lantas mendatanginya dan memberinya salam:

    "Bung barusan mendengarnya?"

     Chairil jadi tertawa lagi, khas seperti tadi. Sambil disapunya dengan pandang seluruh ruang dengan matanya yang merah. Sesudah itu dia maju ke depan sambil bicara terus terang:

     "Manis, sajakmu barusan cukup romantis! Tapi bukan itu semangat! Kalau mau semangat...ini!"

     Chairil mengambil kapur tulis dan mulai menulis di papan tulis yang memang tersedia di tengah ruang itu. Ternyata juga sebuah tuisan dari sebuah jiwa yang gelisah. Cepat, keras, tapi juga pasti. Sambil menulis, mulutnya ikut berbunyi:

     "Aku!
      Kalau sampai waktuku
      Kumau tak seorang kan merayu
      Tidak juga kau
      Tak perlu sedu sedan itu
      Aku ini binatang jalang
      Dari kumpulannya terbuang
      Biar peluru menembus kulitku
      Aku tetap meradang menerjang
      Luka dan bisa kubawa berlari
      berlari
      Hingga hilang pedih peri
      Dan aku akan lebih tidak peduli
      Aku mau hidup seribu tahun lagi."

------
Sumber bacaan:
1. Tribuana Said (Penyunting), "H. Rosihan Anwar, Wartawam dengan Aneka Citra", Penerbit Kompas, 1992. Tulisan tentang Keimin Bunka Sidosho dipetik dari "Seniman Merdeka" tulisan Rosihan Anwar di buku itu.
2. Sjuman Djaya, "Aku", Pustaka Utama Grafiti, Jakarta, 1987, cetakan pertama. Cetakan berikutnya diterbitkan oleh Metafor Publishing, 2003.
3. Chairil Anwar, "Aku Ini Binatang Jalang", PT Gramedia Pustaka Utama, Cetakan kedelapan, 2000.