Saturday, March 8, 2003

Puisi Sia-sia, Airmata Sia-sia



: petisi menentang perang, make poems not war



aku melihat bicaramu di televisi (tak kutemu, mesti letih

mencari alasan untuk bersetuju dengan hujjahmu)
aku menyimak

persiapan laskarmu (tapi tak dapat meyakinkan aku siapa

sebenarnya musuh yang pantas dimusnahkan)
aku melihat

dendam menghitam di wajahmu (kenapa kami harus mencoreng

juga arang di wajah puisi? terbakar pawaka yang kau sulutkan)




aku mencatat adegan mereka memeluk anak isterinya (senjata

yang kau hunus entah berpamitan pada siapa?),
aku mendengar

deru kapal peluru mengarung laut ke peluk teluk mauk (tuan, bahan

bakarnya ditambang dari negeri yang hendak kau hancurkan itu kan?)


aku melihat tanggal ancaman yang kau lingkar dengan jumawa

(patera luruh dari pohon almanak tua sejarah manusia)



aku membaca lagi puisi ini (lalu terasa sangat sia-sia menuliskannya)

aku mencari kata yang hendak kubisikkan ke hatimu (hanya lirih, pawana

yang ringkih berhembus tanpa sebisikpun kata, hanya sedih, basah mata

yang menitik kukira darah ternyata cuma air mata yang sebenarnya

kupersiapkan luruh kelak saat datang duka maha duka, lalu tiba-tiba aku

merasa sia-sia meneteskannya)




Mar 2003