Wednesday, June 6, 2012

[Ruang Renung #265] Hujan Turun Sepanjang Sajak (2 - habis)

BAGAIMANA sebenarnya Sapardi mempermainkan atau dipermainkan hujan? Bagaimana hubungan keduanya bisa sedemikian mesra?  Ketika menulis sajak "Hujan Turun Sepanjang Jalan", sajak yang diakui Sapardi sebagai salah satu sajak yang dia suka, seakan ada suasana yang merasuk.

"Saya menuliskan saja apa yang merasuk ke dalam diri saya itu. Maka yang lahir yang suasana hujan itu. Bukan semata hujannya," kata Sapardi. Itu sebabnya, sedemikian lembut bait-bait sajak itu, dan sebegitu kuatnya suasana sajak itu merasuk ke benak pembaca.



Sajak-sajak Sapardi adalah sajak suasana. "Sajak imajis," kata Sutardji Calzoum Bachri mengembalikan alamat penyebutan itu ke istilah yang lebih umum.  Ini merujuk ke sebuah gerakan estetis sekelompok penyair di Inggris yang menulis sajak dengan semangat memangkas kecenderungan figurasi pada bait-bait sajak seperti era romantik.

Salah satu kredo sajak imajis adalah pengucapan yang apa adanya, memetik langsung dari apa yang terhampar di depan mata. Dari situlah kekuatan penyair diuji. Apa yang dia petik apakah bisa membangun imaji, atau suasana yang kuat? Atau sekadar laporan mentah yang tak menawarkan apa-apa? Sapardi adalah penyair imajis, yang muncul pada saat yang tepat. "Dia menautkan kembali sajak Indonesia kepada lirik, pada saat yang tepat," kata Goenawan Mohamad.

Sajak-sajak dari kelompok imajisme, dengan terus terang mengakui bahwa mereka terinspirasi oleh sajak-sajak klasik Tiongkok dan haiku Jepang.  Kedunya memang bak lukisan cat air yang dengan sabar, hemat, membangun gambar nyata, menghamparkan suasana. Ada sebuah haiku misalnya, menggambarkan si penyair berkuda di musim salju, mendekat pada lampu yang minyaknya membeku. Begitu saja. Tapi, dengan begitu suasana musim dingin, dan kesunyian jadi sangat terasa.

Begitulah sajak imajis. Sajak Sapardi, terutama sajak tentang hujan yang sedang kita perbincangkan ini, sesungguhnya tak lagi sepenuhnya taat pada kredo imajisme. Pada bait pertama, ya. Itu sepenuhnya adalah gambaran pemandangan apa yang terpandang oleh penyair. hujan turun sepanjang jalan, /  hujan rinyai waktu musim berdesik-desik pelan /kembali bernama sunyi /  kita pandang: pohon-pohon di luar basah kembali.

Si aku dalam sajak itu kita bayangkan ada di balik jendela rumah, memandang keluar. Hujan turun di sepemandangan jalan yang tampak dari jendela. Angin sedikit membuat jatuhan hujan tempias, lalu kembali seperti itu. Tak ada suara lain kecuali suara hujan dan bising itu membuat sunyi suara-suara lain. Dan pohon pun basah. Tak ada yang luar biasa dari laporan pandangan mata itu. Tapi, suasana kuat telah terbangun.

Tapi pada bait kedua, perasaan dan pendapat penyair mulai dipersatukan dengan apa yang telah dipaparkan di bait pertama. Sapardi sendiri pernah membuat satu rumusan sebuah sajak imajis yang unggul adalah ketika si penyair dengan cermat bisa menyatukan imaji alam yang datang dari luar, dengan kilasan perasaan yang datang dari dalam dirinya. Dengan sajak ini ia telah memberi contoh bagaimana mewujudkan rumusan itu. []