Sunday, June 3, 2012

[Ruang Renung #263] Nuh pada Perahu Kertas Sapardi

 Akhirnya kau dengar juga pesan si tua itu, Nuh, katanya
      "Telah kupergunakan perahumu itu dalam sebuah banjir besar
      dan kini terdampar di sebuah bukit."


(Perahu Kertas, 1983)


Foto: Kompas/Yuniadhi Agung

SAJAK 'Perahu Kertas' yang kutipannya memulai tulisan ini, ada di buku berjudul sama. Buku itu Ini adalah buku ketiga Sapardi Djoko Damono, setelah debutnya dengan "Duka-Mu Abadi", yang dengan gemilang menempatkannya pada posisi penting dalam peta kepenyairan di Indonesia.



Puisi 'Perahu Kertas' memain-mainkan imaji permainan anak-anak, yakni melipat kertas menjadi perahu, melayarkannya di tepi kali, lalu membiarkannya (atau membayangkannya) hanyut sampai ke lautan. Dari imaji anak-anak, Sapardi lantas membelokkannya ke kisah Nabi Nuh yang mengakui menggunakan kapal itu dalam sebuah banjir besar.

Sapardi pernah menulis sebuah esai cemerlang tentang kepenyairannya yang batasnya adalah antara tidak sekadar bermain-main imaji sebagai kanak-kanak, tetapi juga tak sampai menjadi nabi yang membebani larik-larik sajaknya dengan sabda. Itulah wilayah kepenyairan Sapardi yang teguh ia jaga sampai hari ini.

Saya mengingat kembali sajak 'Perahu Kertas' setelah bertemu lagi dengan sajak terbaru Sapardi berjudul 'Nuh', di Kompas (Minggu, 3/6/2012). 29 tahun kemudian

Nuh bilang, kita harus membuat perahu.
Mimpi kita tumpah: banjir besar itu
apa sudah direncanakan sejak lama?
Ambil beberapa huruf yang cekung,

agar kita bisa tertampung.
Persiapkan juga beberapa yang tegak
dan miring, dan sebuah titik.
Ke mana kita terbawa muntahan ini?

Susun dalam sebuah kalimat yang kedap air
agar kita sampai ke sebuah bukit.
Mimpikah sebenarnya muntahan ini?
Agar kita bisa menelan masa lalu.

Kenapa Nuh, Pak Sapardi? Apa hubungannya sajak 'Nuh', dengan 'Perahu Kertas'? "Itu lanjutannya," kata Sapardi sambil terkekeh ketika saya menyapanya dan bertanya lewat telepon, setelah saya baca sajak itu.  Dia bercanda. "…ya, bukan lanjutannya. Saya ya menulis saja," katanya meralat candanya.

Sapardi ingin mengatakan bahwa satu tema besar seperti terkandung dalam kisah Nabi Nuh bisa menjadi garapan kreatif.  Apa yang ingin disampaikan, atau apa yang tersampaikan dari sajak 'Nuh'? Kesungguh-sungguhan mempersiapkan sesuatu yang kita ikhtiarkan agar kita sampai pada apa yang ingin kita raih.  Ini bukankah sebuah tema yang umum? Yang bagi seorang motivator bisa jadi bahan seminar sepanjang tahun dengan ribuan peserta?

Kerja penyair bukan kerja motivator dalam seminar. Penyair bergulat dengan bahasa. Maka lahirlah pengucapan-pengucapan unik khas Sapardi: ambil beberapa huruf yang cekung, agar kita semua bisa tertampung. Ini bait jenius: sekadar mengambil dari apa yang ada di seperjangkauan tangan, kata-kata yang biasa saja, tapi kemudian tersaji sebagai bait yang cemerlang. Huruf yang cekung, ini dengan efektif membangun imaji perahu, bukan? Ah, cara ucap yang unik. Menggiur, mengundang tafsir.

Begitulah, Sapardi yang tahun ini sudah 72 tahun, masih bekerja untuk puisi. Mengirimkannya ke surat kabar, meski itu baginya mungkin sudah tak menarik lagi. Saya katakan, dengan cara itu, dia terus-menerus mempermalukan penyair muda yang malas! []