Wednesday, May 20, 2009

Aku dan Sapardi (2) --- Yang Besar dan Yang Lebih Besar

KETIKA Muhamad Guntur Romli mengabarkan per telepon tawaran untuk menjadi pembahas "Kolam", buku puisi terbaru Sapardi Djoko Damono, saya tak berpikir panjang untuk mengiyakan. Meskipun saat itu saya belum punya bukunya.



"Nanti saya e-mailkan sinopsis diskusinya, dan bukunya secepatnya menyusul," kata lelaki ujung tombak pegiat acara-acara diskusi di Komunitas Salihara. E-mail dari Guntur secara ringkas kira-kira berisi pertanyaan: Adakah yang baru pada sajak-sajak Sapardi setelah hampir 50 tahun dia menyajak?

Adakah yang baru? Tentu saja untuk menjawab pertanyaan sederhana itu, saya harus mengumpulkan lagi apakah yang sudah ada dalam sajak-sajak Sapardi sebelumnya. Maka, hampir sebulan lamanya saya menyingkirkan buku lain di meja kembali ke rak buku, kecuali semua buku-buku Sapardi "DukaMu Abadi", "Mata Pisau", "Perahu Kertas", "Sihir Hujan", "Hujan Bulan Juni", "Ayat-ayat Api", "Mata Jendela", dan "Ada Kabar Apa Hari Ini, Den Sastro?"

Saya mulai membaca lagi. Buku-buku tersebut - plus buku-buku prosanya, "Membunuh Orang Gila", dan "Pengarang Telah Mati"; juga buku Esai-esainya "Sihir Rendra: Permainan Makna", dan "Sastra Hibrida" - semuanya sudah saya baca berkali-kali.

Tentu saja saya membaca juga buku-buku sajak lain dengan intensitas pembacaan yang sama. Saya membaca sebagai penyair yang belajar bagaimana penyair lain memberdayakan perangkat-perangkat puitika, mengolah perbendaharaan kata, beranjak dari buku sajak ke buku sajak berikutnya.

Apakah sajak perlu dipahami atau dinikmati saja? Terhadap sajak, kita bisa memilih banyak sikap. Pertama, kita boleh membaca sajak dengan niat untuk menikmatinya. Kita terpesona pilihan-pilihan katanya, terpukau dengan kejutan kalimat-kalimatnya, jatuh cinta pada keunikan tipografinya, menemukan kebaruan-kebaruan tema yang ditawarkan penyairnya, larut sejenak dalam keindahan rima ritma: bunyi-bunyian dan ditata penyair dalam larik-larik sajaknya.

Ini selain bergantung pada subyektivitas pembaca, juga menuntut kepekaan yang hanya bisa didapat dengan terus-menerus membaca banyak sajak senikmat-nikmatnya. Memang, selera bisa beda: artinya, kalau saya menyukai sajak penyair A, dan tidak menyukai sajak penyair B, bukan berarti penyair A lebih baik daripada penyair B. Tapi, rumus umumnya adalah semakin banyak pesona, nikmat, dan makin kuat daya pukau yang diberikan, maka makin berhasillah sajak itu.

Kedua, kita boleh membaca sajak untuk memetik makna yang bisa memperkaya cara kita menghayati kehidupan. Kita terpukau dengan kesimpulan-kesimpulan filosofis yang dicapai oleh penyairnya dan ia tampilkan dalam sajak-sajaknya. Kita ikhlas terbawa - tentu kearah yang lebih positif - oleh ajakan penyair lewat renungan dalam sajak-sajaknya. Kita ikut bersimpati pada manusia-manusia yang jadi subyek dan obyek sajak-sajaknya.

Ketiga, kita bisa juga diam-diam belajar bagaimana penyair memberdayakan seluruh perangkat puitika, menemukan ataa mencari dan menetapkan bahan untuk sajak-sajaknya. Pembaca yang jeli, dan tekun, - bila ia juga seorang penulis puisi - pasti tidak akan jatuh kepeniruan. Sebab, alat-alat puitika itu adalah benda-benda bebas yang bolah dipakai oleh siapa saja. Cara menggunakannya dengan maksimal, dengan cara kita masing-masing, itulah yang membuat penyair satu berbeda dengan penyair lain. Dan ibarat langit pilihan membentang amat luas. Setinggi apa bisa kita raih? Tergantung pada kekuatan sayap kita sendiri. Ibarat laut, pilihan itu amat dalam. Sedalam apa makna yang bisa dicapai? Tergantung pada kekuatan kita menyelam.

Terhadap puisi-puisi Sapardi, ketiga hal itu serta-merta menggerakkan saya. Penyair besar, saya kira, adalah penyair yang kebesarannya terasa ketika kita membaca sajak-sajaknya. Tetapi ada penyair yang lebih besar, yaitu dia yang sajak-sajaknya ketika kita baca membuat kita merasa bisa memaknai, mampu menghayati, dan bahkan membuat kita nyaman, tidak jadi bodoh dan terasing dari dunia Puisi. Itulah yang saya rasakan pada Sapardi.(bersambung)