Monday, January 29, 2007

[Tadarus Puisi # 020] Nisan: Mengukur Ketinggian Takhta Sang Maha Duka

Nisan
Sajak Chairil Anwar
                                         untuk nenekanda


Bukan kematian benar menusuk kalbu
Keridlaanmu menerima segala tiba
Tak kutahu setinggi itu atas debu
dan duka maha tuan bertakhta.

Oktober 1942

INI sajak pertama Chairil Anwar yang bisa kita baca di terbitan-terbitan resmi. Saya yakin Chairil ada menulis sajak lain sebelum "Nisan",  yang mungkin dianggapnya belum mencapai taraf sajak yang ia inginkan, sehingga ia musnahkan saja. Dua tahun setelah sajak ini pun Chairil masih saja meragukan sajak-sajaknya. Ia memang menamakannya sajak, tapi "itu hanya percobaan kiasan-kiasan baru. Bukan hasil sebenarnya! Masih beberapa "tingkat percobaan" musti dilalui dulu, baru terhasilkan sajak-sajak sebenarnya," tulis Chairil dalam kartu pos bertanggal 10 April 1944, kepada sahabatnya H.B Jassin.

Dalam pengucapan biasa sajak di atas bisa kita tulis ulang sebagai berikut: Nenekku, bukan kematianmu yang benar-benar menusuk kalbuku, tapi keridlaanmu menerima segala apa yang tiba padamu, yaitu kematianmu. Itulah yang benar-benar menusuk hatiku, Nenek. Aku tak tahu, ternyata hanya setinggi itulah nisan itu ditegakkan, hanya setinggi nisan itu, di atas tanah yang berdebu. Setinggi itu pula si tuan duka, si maha duka, si maha tuan duka bertakhta. Hanya setinggi itu.

Parafrase di atas bukanlah upaya yang mudah dan lancar. Dengan demikian, juga bukan penguraian ulang yang paling tepat. Banyak variasi yang dimungkinkan. Untunglah ini hanya sebuah sajak pendek, hanya empat baris. Baris pertama tidaklah terlalu sulit untuk diartikan. Chairil mengambil sudut pandang yang kreatif: percakapan dengan neneknya yang sebenarnya sudah meninggal. Percakapan yang hanya mungkin untuk kepentingan puisi, dan percakapan itu menjadi amat "puitis" karena ia memperbincangkan tentang si lawan bicara itu sendiri dan tentang kematian si lawan bicara itu.

Penyimpangan puitik mulai dimainkan Chairil pada baris kedua. Setelah baris pertama dimulai dengan kata "bukan", pada ucapan biasa, kita boleh bertanya, "kalau bukan itu, lalu apa?" Kita boleh berharap jika bukan itu, maka kita diberitahu soal lain. Wajar kita berharap baris berikutnya akan dimulai dengan kata "Tapi". Tapi, Chairil tidak memakai kata tapi. Dia langsung menyodorkan "Keridlaanmu menerima segala tiba". Sebagai kita seakan disuruh menyimpulkan tapi juga disuruh ragu-ragu, keridlaan itukah yang menusuk kalbu? Jangan minta jawaban pasti. Apa yang ragu-ragu memang tabiat puisi.

Belum tuntas kegamangan di baris kedua, penyair sudah menyodorkan hal lain yang seakan putus hubungan dengan dua baris pertama. Memperparah keraguan kita sebagai penafsir. "Tak kutahu setinggi itu atas debu//dan duka maha tuan bertakhta//. Penafsiran terbantu banyak setelah kita berpegang pada judul: Nisan. Imaji-imaji pun bermain, nisan adalah benda bisa dari batu, beton atau kayu, bertulisan nama, tanggal lahir, dan tanggal kematian.

Nisan tak pernah dibangun tinggi, bukan? Hanya tinggi yang sekedarnya. Setinggi itulah mestinya kedukaan kita beri hak untuk bertakhta, duka si penguasa tunggal atas hati ketika menghadapi kematian. "Tak kutahu..." kata si penyair. Tapi, dengan kalimat itu, dia memberi tahu bahwa dia sejak itu jadi tahu. Dia juga memberi tahu sesuatu pada pembaca: sebuah kearifan menghadapi kematian. Dengan demikian makna sudah diberikan pada sebuah kematian, oleh seorang pemuda berusia 22 tahun yang bernama Chairil Anwar.