Monday, March 29, 2004

The Art of Poetry

Jorge Luis Borges



Menatap sungai, dicipta waktu dan arus air

kau ingat? Waktu adalah sungai yang lain.

Kita, kau tahu, berliku bagai sungai yang lain

wajah kita kelak menghilang, bagai arus air.



Terjaga, kau rasakan, adalah juga mimpi,

mimpi yang bukan bermimpi, dan maut

yang mencekam di tulang kita adalah maut,

setiap malam kita pinta datangnya; itu mimpi.



Setiap hari segenap tahun menemu: simbol.

Seluruh hari lelaki, juga sepanjang tahun,

dan menukar kekejaman seluruh tahun-tahun

menjadi musik, suara, dan sebuah simbol.



Mimpi terlihat pada maut, matahari senja hari.

kesedihan yang sungguh -- selayaknya puisi,

apa adanya, abadi adanya, seperti puisi,

bertukar ganti, seperti fajar dan senja hari.



Sekali waktu, malam hari, ada seraut wajah

menatapi kita dari kedalaman di balik cermin.

Seni itu mustilah menjadi seperti cermin,

yang menyingkapkan bagi kita: seraut wajah.



Kata mereka Ulysses, mengenakan keajaiban,

menangis dengan cinta menatap Ithaca,

lembut dan hijau. Seni adalah dia: Ithaca,

takdir yang berwarna hijau, bukan keajaiban.



Seni tak berakhir, seperti arus sungai itu,

berlalu, juga tetap tinggal, cermin pun sama

Heraclitus yang teguh, dia orang yang sama

juga seperti lainnya, seperti arus sungai itu.