Monday, February 2, 2009

Sejalan Panjang Kenangan

1. Ruang-ruang Kuliah Kampus Lama

AKU sering tertidur di deretan kursi belakang.
Melewatkan kuliah profesor tentang bagaimana
membedakan jenis-jenis tanah dari warnanya.

Dan sekali waktu aku pernah bermimpi di tidurku
itu: pada-Nya, aku bertanya, "Aku, Kau tempa
dari tanah apa?" Dia menjawab, "Kenapa kau tanya
aku? Tanyalah itu profesor ahli tanahmu..."

Ah, Engkau! Padahal aku masih ingin tahu cara
membedakan Cahaya dan Api dari juga warnanya,
aku masih ingin bertanya di mimpi sesingkat itu.


2. Jalan Malabar, Bafak, Bagunde


KAMAR kosku dari timpa tumpuk diktat, bantal
gabus yang bantat, ransel yang tak pernah muat
menampung 23 SKS yang padat: praktikum yang ketat,
laporan yang cepat, praktek lapangan yang singkat

Kamar kosku tak bisa mengasingkanku dari parau
tenggorokan bemo, yang selalu ngebut tak sabar
di jalan Malabar, mengantar ke kios-kios fotokopi
di Bafak, ke kedai-kedai makan murah di Bagunde

Ada seorang sopir bemo yang bila kelak berjumpa
lagi ingin takzim kucium tangannnya. Dulu dia bilang,
"Buat apa jauh-jauh dari Kalimantan kuliah di
sini, Kang? Saya saja yang lahir dan besar di gubuk
di belakang kampus itu, tak tamat sekolah dasar..."

Ah, Engkau! Aku tiba-tiba sadar, betapa jauh telempar
ditendang oleh kaki nasib bertelapak kasar dan besar!