Saturday, November 12, 2005

[Ruang Renung # 128] Panjang Pendek Puisi

KEKUATAN puisi adalah kelenteruan panjang pendeknya. Tak ada batasan seberapa harus panjang. Dan seberapa harus pendek. Panjang pendek adalah bagian dari sifat puisi yang bisa diutak-atik. Bisa dimain-mainkan. Ada puisi yang sudah sangat kuat ketika selesai ditulis dalam baris-baris pendek. Kita harus bisa menahan godaan untuk tidak memperpanjang-panjangkannya.

Kita harus bisa mengukur bilakah proses penulisan puisi kita selesai. Bukan panjangnya yang jadi ukuran.

Puisi boleh sangat panjang. Boleh pula sangat pendek. Sutardji Calzoum Bachri tentu kita tahu, dia ada menulis dua puisi yang sangat pendek.

Luka

ha ha


dan satu puisi lagi,

Kalian

pun

Puisikah keduanya? Tentu ya. Puisi yang berhasilkah? Sama saja dengan puisi lain. Bisakah kita memaknainya? Berada dalam buku yang menampilkan puisi-puisi lain, O Amuk Kapak, bagi saya kedua puisi itu sangat berhasil. Bacalah. Rasakanlah kepuisiannya. Maknailah. Bukan karena Tardji yang menulisnya. Tapi karena puisi itu memang puisi. Kita juga bisa menulis puisi seperti itu. Tak dilarang. Tapi belum tentu hasilnya sehebat dua puisi itu.

Bagaimana membaca puisi itu? Saya pernah melihat Tardji membacakan puisi Kalian. Dia memberi semangat pengantar yang agak panjang. Semacam basa-basi yang berisi. Lalu....pun! Selesai.[hah]