Sunday, October 14, 2007

[Ruang Renung # 231] Melihat yang Tak Terpandang, Mendengar Nyanyi


O, kulihat tali,
Yang tak terpandang oleh mata,
Menghubung hati,
Kalbu nelayan di laut bercinta...



(J.E. Tatengkeng, "Nelayan Sangihe")



dan dari debu yang bertumpuk atas sisa arang
kudengar kaunyanyikan duniamu yang akan datang.



(Abdul Hadi W.W., " Dari Rembang ke Rembang")



PENYAIR itu pendusta? Apakah benar ia bisa melihat tali yang tak terpandang oleh mata? Tali yang menautkan kalbu nelayan dengan laut? Apakah benar ia bisa mendengar suara orang menyanyi pada tumpukan debu atas arang?

Penyair bicara dengan perlambang. Penyair adalah orang yang cermat menyusun sebuah sistem kecil lambang-lambang dari yang tampak biasa saja dalam pandangan mata yang bukan penyair. Puisi yang ditulis penyair berhasil apabila ia bisa menawarkan sebuah gugusan lambang baru, yang bisa dimaknai oleh pembaca dan dari situ pembaca bisa memetik hikmah yang bermakna buat kehidupannya.

Kerja sebagai nelayan bukanlah sebuah kerja yang nyaman. Ia harus akrab dengan dingin udara lautan dan ganas angin. Nelayan tak selalu bisa menangkap ikan setiap kali ia pergi melaut. Nelayan adalah dia yang mencintai pekerjaannya, mencintai laut, mencintai para pembeli ikan yang kelak membeli hasil tangkapannya. Semuanya tak terucap oleh nelayan tersebut. Semuanya - dalam bahasa penyair - dilambangkan dengan sebuah tali yang tak tampak mata, yang menautkan hati nelayan dengan laut. Tali itu, laut itu, adalah lambang yang dengan sederhana dan ringkas, tetapi dalam dan penuh makna, telah menjadi alat ucap yang dengan cerdas dimanfaatkan oleh penyair.

J.E Tatengkeng, menyiarkan sajak "Nelayan Sangihe" dalam buku "Rindu Dendam" yang terbit pertama kali tahun 1934.

Abdul Hadi W.M, penyair yang lebih kemudian, menyiarkan sajak yang kutipannya kita sanding di awal tulisan ini pada tahun 1977. Jika dibaca dan ditelan mentah sebagai apa yang wadak kata sajak itu maka yang ia tulis adalah dusta juga. Bagaimana bisa mendengar suara nyanyian seseorang dari debu yang bertumpuik atas sisa arang?

Tapi yang ditawarkan Abdul Hadi adalah kemauan - dan kemampuan - kita melihat menembus jasad kata itu. Manusia, akhirnya hanya akan jadi debu. Kembali ke tanah. Itulah nyanyian, berulang, yang diam-diam dinyanyikan oleh tiap manusia - entah didengarnya sendiri atau tidak - yaitu kesadaran bahwa dirinya akan kembali ke dunia yang akan datang. Dunia setelah kematian. Dunia yang akhirnya sama saja: kembali ke debu, bertumpuk di atas arang!

Tak ada dusta. Kalau pun penyair dianggap sebagai pendusta, maka benarlah apa yang dikatakan oleh ..... bahwa penyair adalah pendusta yang selalu bicara tentang kebenaran! Bila sajak kita belum sampai pada k3ebenaran, maka kita belumlah menjadi penyair yang sebenar-benarnya penyair. Kita adalah hanya pendusta.