Monday, October 22, 2007

[Majas # 001] Menapaki Jejak Bahasa Kias

Majas adalah gaya bahasa adalah bahasa kiasan adalah figurative language. Mudahnya seperti itu. Kok begitu? Ya, begitulah, karena dengan alasan yang kuat, gaya bahasa dan bahasa kiasan bisa dibedakan. Sekali lagi, untuk kemudahan saja, maka mereka kita anggap sama.

Majas berasal dari Bahasa Arab, artinya kiasan. Dalam buku-buku teori pengkajian puisi majas biasanya dibahas dalam bab KATA, bersama khazanah kata (KOSAKATA), pemilihan kata (DIKSI), gambar angan atau citraan (IMAJI), dan hubungan kata dengan faktor GRAMATIKA.

Dalam analisa puisi dengan metode struktural, majas adalah salah satu unsur dari struktur fisik puisi. Menurut metode ini, selain memiliki struktur fisik, puisi juga terbangun atas struktur batin. Jika dikuasai dan dimanfaatkan maksimal, maka majas yang fisikal itu bisa mendukung kekuatan struktur batin puisi.

Secara umum, majas atau gaya bahasa adalah upaya untuk memanfaatkan kekayaan bahasa, pemakaian ragam tertentu untuk memperoleh efek-efek tertentu, keseluruhan ciri bahasa sekelompok penulis sastra dan cara khas dalam menyatakan pikiran dan perasaan baik secara lisan maupun tertulis (Kamus Besar Bahasa Indonesia, 2002).

Uraian pengertian di atas tampak menggabungkan pengertian gaya bahasa dan gaya ucap. Tiap pengarang atau penyair yang baik, akhirnya pasti dan seharusnya bisa menemukan gaya ucapnya sendiri. Gaya ucap itulah yang mungkin tepat untuk disebut sebagai kekhususan atau keistimewaan atau idiosincracy.

Sekali lagi, kita anggap saja, majas itu sama dengan gaya bahasa, sepantun dengan bahasa kiasan dan setali tiga uang dengan figurative language. Dan kemudian, kita sepakati bahwa kecenderungan atau kegandrungan memanfaatkan majas tertentu adalah salah satu yang menentukan gaya ucap seorang penyair. Beri garis bawah pada frasa "salah satu".

Secara khusus, majas itu di dalam puisi diberdayakan untuk (1) kenikmatan imajinatif, (2) menghasilkan tambahan makna, (3) menambah intensitas dan menambah konkret sikap dan perasaan penyair, (4) memperpadat ungkapan makna dalam sajak.

Penyair adalah orang yang pandai menggunakan dan lihai memanfaatkan kekayaan dan kekuatan bahasa syairnya. Penyair yang baik harus mengetahui dan menguasai semua unsur tersebut, untuk kemudian dimainkan, dikhianati, dilanggar, juga dipergunakan secara maksimal sebagai sarana puitika, dan menghasilkan puisi yang segar. Ia pun suatu saat kelak harus bisa menciptakan gaya bahasa sendiri, untuk disumbangkan untuk menyegarkan dan memperkaya khazanah bahasanya!

Para peneliti, pengkaji bahasa dan sastra, punya berbagai cara yang berbeda dalam menelaah gaya bahasa. Tujuannya sama saja, supaya mudah dipahami. Gunawan Sudarsana, dalam buku Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan (IndonesiaTera: Magelang, 2007) merangkum dan menyusun 57 majas terbagi atas empat kategori, yaitu:

- Majas Perbandingan, 23 jenis.
- Majas Sindiran, 5 jenis.
- Majas Penegasan, 24 jenis.
- Majas Pertentangan, 5 jenis.

Pas, semuanya 57 jenis. Banyak juga ya? Nah, mari tarik nafas dulu. Kita akan menelurusi pengertian majas-majas itu satu per satu, dan kita cari contoh-contoh bagaimana majas-majas itu dimanfaatkan oleh penyair Indonesia dalam sajak-sajak Indonesia.

Bacaan:
1. Rachmat Djoko Pradopo; Pengkajian Puisi; Gadjah Mada Universitu Press: Yogyakarta, Cet.9, 2005.
2. Kinayati Djoyosuroto; Pengajaran Puisi: Analisis dan Pemahaman; Penerbit Nuansa: Bandung, 2006.
3. Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan; Penerbit IndonesiaTera: Magelang, 2007.